Rabu, 25 September 2013

Kenapa Kita Menempati Negeri Surga Ini ?



Tahukah Anda, kenapa nenek moyang kita ditempatkan di negeri ini ? Bukan suatu kebetulan atau karena menang undian nenek moyang kita ditempatkan di negeri ini, tetapi ini rencana Tuhan. Kenapa nenek moyang kita tidak di tempatkan di benua Afrika yang kering kerontang, atau di wilayah empat musim di belahan bumi utara atau selatan yang dingin menggigit ? Nenek moyang kita ditempatkan di negeri ‘surga dunia’ ini karena suatu alasan yang sesuai dengan kebutuhan ras nenek moyang kita kala  itu.

Jika orang hitam Afrika ditempatkan di tanah kering, itu juga bukan hukuman. Demikian pula manusia yang ditempatkan di negeri empat musim yang satu waktu dingin menggigit, yang hanya bisa satu kali panen dalam setahun, itu juga karena nenek moyang mereka kalah undian.  Semua ada alasannya.  

Bagaimana kalau penempatan nenek moyang keliru ? Misal nenek moyang kita ditempatkan di dataran Afrika ? kita tidak akan ada  disini sekarang, sudah musnah. Nenek moyang kita tidak akan sanggup menghadapi teriknya matahari Afrika, yang minim air dan pangan. Demikian pula jika nenek moyang kita ditempatkan di negeri Eropa, tidak akan bertahan ketika musim dingin tiba.

Nyatanya nenek moyang kita tidak ditempatkan di negeri-negeri beriklim ekstrim, tetapi ditempatkan di negeri katulistiwa dengan siraman hangat matahari sepanjang masa. Negeri hijau loh jinawe, tersedia aneka pangan, buah-buahan ranum silih berganti sepanjang tahun, iklim yang nyaman, air segar memancur di mana-mana. Sungguh, nenek moyang kita dimanja Tuhan.

Pertanyaannya kenapa Tuhan demikian memanjakan nenek moyang kita ? apakah karena nenek moyang kita paling taat beribadah dibanding lainnya ? bisa jadi iya dengan caranya kala itu. Tapi yang paling relevan, karena fisik nenek moyang kita LEMAH.  

Karena alasan itulah, agar nenek moyang kita dapat bertahan hidup dan melahirkan keturunannya, Tuhan yang maha adil menempatkan nenek moyang kita di negeri ini. Semua kebutuhannya dicukupi.  Makanan tersedia, tinggal petik atau pungut buah jatuhan masak pohon. Air minum memancar tinggal menadahkan tangan. Mau berteduh sudah disiapkan gua sebagai tempat tinggal.

Bandingkan dengan di dataran Afrika sana. Mereka yang ditempatkan di sana, mau makan harus mencari ubi dengan menggali-gali tanah bersaing dengan babi liar. Mau minum harus berlari-lari mengejar fatamorgana bahkan harus bertaruh nyawa melawan buaya. Mau berteduh harus berlaga dulu dengan singa, berebut bayangan pohon yang langka di lahan kering.

Orang ras afrika bertubuh hitam pekat bukan hasil evolusi atau adaptasi karena terjerang matahari sepanjang hari, tetapi memang dirancang Tuhan untuk menghadapi teriknya matahari Afrika. Kaki yang panjang dan tubuh yang ramping disiapkan agar mampu berpacu atau berlari menyelamatkan diri dari ancaman binatang  buas.

Bayangkan jika nenek moyang kita dahulu ditempatkan di dataran Afrika. Dengan bentuk fisik seperti sekarang, niscaya nenek moyang kita sudah lumat dimangsa binatang buas. Kita pun tidak ada di dunia saat ini.

Sesungguhnya ragam ras itu memang ada. Bukan hasil dari evolusi, tetapi memang disain dari Tuhan. Jika memang hasil evolusi, seharusnya orang ras Afrika yang tinggal di belahan Amerika dan Eropa bergradasi menjadi warna coklat kemudian memutih. Pada kenyataannya mereka tetap hitam pekat. Demikian pula orang kulit putih yang tinggal di Afrika yang terik, kulit mereka tetap berwarna putih. Jika ada perubahan warna kulit dari putih menjadi coklat  karena terjerang matahari, itu hanya sementara, setelah itu akan kembali lagi seperti semula – bule lagi.

So, bersyukurlah kita ditempatkan di negeri ini. Jika tidak, ras kita sudah lama punah atau sebagai  salah satu ras yang harus dilindungi. Bagi kita yang semenjak lahir sudah berada di negeri ini, keberadaan kita di negeri ini sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, tidak istimewa. Apalagi bagi yang belum pernah tinggal di ‘luar’, yang belum pernah merasakan pedihnya udara dingin yang menggigit atau udara panas ekstrim yang mencekik. Namun bagi mereka para pendatang, negeri ini sungguh surga dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar