Masih ingat dengan pertadingan sepakbola antara timnas dengan Arsenal yang digelar pada pertengahan Juli 2013. PSSI kalah telak digulung Arsenal 0 – 7. Kekalahan timnas melawan Arsenal suatu hal yang lumrah. Tidak perlu disesali karena pada dasarnya timnas selamanya tak akan dapat mengalahkan Arsenal. Itu hanya suatu pertunjukan demi memuaskan para pecinta Arsenal, tak ubahnya pertunjukan musik yang diselenggarakan oleh even organizer. Sejak kedatangan tim Arsenal di Bandara sampai dengan kedatangannya di gelora Bung Karno disambut meriah oleh penggemar fanatiknya. Pada laga tesebut tidak ada perasaan deg-degan, karena hasilnya sudah dapat ditebak. Betapa meriahnya tepuk tangan penonton manakala tim jagoannya menjebol gawang timnas kita.
Itu lah kenyataan. Pribumi kita dan ras yang serumpun tidak akan mampu mengalahkan ras yang memiliki postur fisik lebih kuat jika harus beradu fisik. Walaupun peluang itu ada, namun sangat kecil karena mustahil ras kita mampu mengalahkan ras mereka yang lebih kuat. Pertandingan olah raga tingkat dunia lebih tepat hanya sebagai tontonan hiburan bagi ras bangsa kita. Jangan berambisi ras kita akan menjuarai laga dunia apalagi dalam sepakbola. Partisipasi timnas di dalam seleksi piala dunia memang tak dapat dihindari karena bagian dari kerukunan berbangsa. Tetapi jika harus menargetkan kemenangan, itu ambisi yang sangat keliru. Ujung-ujungnya jika timnas mengalami kekalahan akan dihujat, menyalahkan pengurus, dslb. Yang berlaga bukan pengurus, jadi jangan salahkan mereka. Masalahnya pada komposisi atletnya. Jika atletnya dari ras pribumi maka akan sulit menang. Ini bukan mengerdilkan semangat bangsa bersepakbola, justru menyadarkan tujuan kita bersepakbola. Jika sepakbola sekedar hiburan tidak masalah, tetapi jika ditargetkan harus memenangkan laga dunia, kasihan atletnya. Ibarat mengecat langit. Sekeras apa pun usaha atlet timnas, tak akan mampu menjuarai laga dunia. Ini karena ras bangsa kita masuk kategori ras lemah.
Kekuatan fisik tidak dapat diperbaiki dengan memotivasi, kecuali semangat bertanding. Walaupun dalam beberapa kasus kekuatan fisik dapat dibangkitkan melalui cara hipnotis, tetapi mana mungkin atlet berlaga dalam keadaan terhipnotis ?
Mari kita ingat kembali. Berapa kali timnas sepakbola berlaga melawan ras bangsa arab ? sudah berkali-kali. Namun tak satu pun yang dapat dimenangkan. Walaupun melawan negara arab yang jumlah penduduknya secuil. Seringkali ada yang mempertanyakan, apa susahnya mencari sebelas atlet di negeri yang berpenduduk ratusan juta ini ? Ada pula yang mengusulkan atlet sepakbola harus disiapkan sejak usia dini. Maka menjamurlah sekolah sepakbola. Jika tujuannya memenangkan laga dunia di masa depan, kubur saja mimpi itu. Karena jika atletnya tetap dari ras kita, mustahil akan memenangkan laga.
Ras bangsa kita dan serumpunnya tidak bisa mengandalkan olahraga sebagai kebanggaan bangsa dan Negara. Itu patut disadari dan diterima dengan lapang dada agar upaya yang telah dilakukan tidak sia-sia. Olahraga, terutama yang body contact, bukan keunggulan dari ras bangsa kita. Bahkan untuk mengalahkan lawan dengan postur tubuh serupa seperti atlet Tiongkok (ras mongol), atlet kita dan serumpunnya kewalahan.
Barangkali kita berdalih atlet kita berprestasi di bulu tangkis. Ya benar. Itu karena petandingannya non body contact, ada net yang membatasinya. Itu pun prestasi ras kita di bulutangkis pun tidak konsisten. Sekali juara, berkali-kali kalah. Jika ada juara dunia bulutangkis berkali-kali, juara olimpiade, coba tengok dari ras bangsa apa mereka ? ini bukan rasialis, tapi menguak kebenaran.
Pada awal tahun sembilan puluhan, dalam suatu perjalanan, duduk di sebelah saya seorang bule. Dia heran kenapa kulit saya gelap seperti orang Vietnam. Menurutnya, saya berbeda dengan orang Indonesia yang ia tonton di televisi, atlet bulutangkis. Kenapa demikian ? karena yang mewakili negeri kita di mata dunia adalah dari ras mereka, bahkan hingga sekarang masih mendominasi bulu tangkis. Tidak dipungkiri, karena jasa mereka lah sang merah putih dapat berkibar di manca negara.
Bahkan pada final bulutangkis antara Indonesia vs Tiongkok atau Indonesia vs Malaysia, acapkali kedua atlet yang berlaga berasal dari ras yang sama, hanya berbeda negara. Ini membuktikan ras mongol (Tiongkok) secara fisik lebih unggul dibandingkan dengan ras asli bangsa kita walaupun postur tubuh mereka relatif sama dengan ras bangsa kita. Kenapa demikian ? karena corak ras bangsa cina lebih konsisten dibandingkan corak ras bangsa kita.
Tim sepak bola kita pernah masuk dalam babak penyisihan olimpiade pada tahun 1930-an dengan mengalahkan tim Korut. Tapi itu dulu, kala negara kita masih Hindia Belanda, dan pemainnya pun sebagian besar indo Belanda. Jika ada pemain non Belanda, itu pun berasal dari keturunan Tionghoa, bukan pribumi.
Kembali ditegaskan disini, ini bukan rasialis. Ini wacana untuk direnungkan bersama untuk menjawab pertanyaan kenapa timnas sepakbola kita selalu kalah di ajang pentas dunia, walaupun sekelas Asia. Dengan menyadari kelemahan ras bangsa, kita tidak perlu berharap memenangkan laga melawan ras lain yang lebih unggul dibidangnya. Sebaiknya kita fokus berlaga pada bidang dimana ras kita juga unggul dibidang yang dipertandingkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar