Jumat, 27 September 2013

Corak Ras vs Kekuatan Fisik

Ras Pribumi
Jika kita perhatikan pada tayangan National Geographic, hampir seluruh binatang liar di Afrika atau dimana saja di dunia ini, bercorak bulu seragam. Baik mangsa maupun pemangsanya. Zebra, rusa, jerapah, singa, chetah, monyet, dlsb corak bulu masing-masing binatang tersebut seragam. Secara visual, sulit bagi kita untuk membedakan antara satu dengan lainnya. Binatang liar lebih gesit, ulet, cekatan, berstamina, dan lebih kuat baik mangsa maupun pemangsanya karena alam menuntutnya demikian.

Bandingkan dengan ayam kampung, kambing, sapi, kuda, anjing dan kucing rumah, dlsb yang dekat dengan kita  dan menjadi peliharaan  manusia. Secara umum mereka bercorak bulu berbeda antara satu dengan lainnya sehingga kita mampu membedakannya. Ambil contoh kambing, walaupun dari jenis yang sama mereke memiliki corak bulu yang berbeda. Demikian pula dengan kuda, anjing, kucing, dan binatang peliharaan lainnya.
  

Secara fisik binatang ternak dan peliharaan lebih lemah, lambat, dan lebih rapuh dibandingkan binatang liar. Apa jadinya jika binatang ternak dan peliharaan tadi dicemplungkan ke alam liar ? Mereka akan menjadi santapan empuk para pemangsa karena keleemahan dan kelambatan mereka.

Demikian pula dengan ras manusia.  Manusia dengan ras dengan corak rupa yang relatif seragam memiliki kekuatan fisik yang lebih  dibandingkan dengan ras dengan corak tak seragam. Corak seragam artinya pada ras tersebut memiliki ciri fisik yang pasti dan tegas. Sedangkan corak yang tidak seragam, ciri fisiknya tidak pasti sehingga sulit didiskripsi.Ras manusia dengan corak yang tegas dan konsisten memiliki fisik yang kuat, sebaliknya bagi ras manusia yagn corak fisiknya tidak konsisten.

Lantas seperti apakah corak fisik ras pribumi kita ? sayangnya masuknya di dalam kategori tidak seragam, ciri fisik pribumi kita tidak konsisten. Jika Anda pribumi, coba perhatikan kembali ciri fisik Anda dan bandingkan dengan saudara-saudara dekat, teman, dan tetangga Anda. Adakah corak fisik yang pasti di antara Anda dan orang lain ? Jika kita perhatikan,   corak fisik pribumi kita ada yang kulitnya berwana terang, coklat, bahkan gelap. Rambut ada yang lurus ada juga yang keriting. Hidung ada mancung ada pula yang pesek. Mata ada sipit tapi ada pula yang belo. Begitu pula dengan jambang, ada yang klimis ada pula yang berjambang. Ini sebagai indikasi bahwa  ras pribumi kita adalah ras yang lemah. Oleh karenanya jangan mengandalkan kekuatan fisik di dalam berkompetisi. Baca juga artikel 'Kenapa Kita Menempati Negeri Surga Ini ? '

Kelemahan fisik ras kita ini perlu diungkap bukan untuk melemahkan mental bangsa, tetapi untuk meluruskan anggapan bahwa semua ras manusia itu sama, padahal tidak. Dengan mengungkap kelemahan ini, kita semua menjadi tahu, memaklumi, dan tidak keliru di dalam mengandalkan core competency kita. Dengan mengetahui keterbatasan, kita tidak harus ‘ngoyo’ mengasah yang bukan keunggulan kita. Memaklumi kegagalan dan tidak mengomentari kekalahan dengan komentar negatif apalagi mencacimaki,  dan tidak menyalahkan siapa pun termasuk menyalahkan pengurus olahraga. Keculai jika atlet tidak terurus kebutuhan logistiknya selama masa pertandingan.

Cara paling mudah untuk membuktikan bahwa ras pribumi kita adalah ras lemah,  melalui kompetisi sepakbola.  Masih ingat pada pertandingan sepakbola persahabatan antara Arsenal melawan PSSI pada pertengahan Juli 2013 ? timnas kita kalah telak 0 – 7. Demikian pula ketika timnas berlaga melawan negara arab, dipastikan akan kalah. Kekalahan yang dialami timnas bukan karena kalah teknik, tetapi kalah ras. Teknik bermain bola dari dulu sampai sekarang sama saja. Kalau dikatakan kalah pengalaman, mustahil karena sudah ratusan kali berlaga.

Walaupun dalam kompetisi tingkat dunia  ‘pernah’ memenangkan pertandingan pada babak penyisihan, namun secara agregat lebih sering kalah. Kemampuan timnas di ajang komopetisi dunia hanya mampu mengimbangi perlawanan ras serumpun seperti Myanmar, Thailand, Vietnam, atau Malaysia. Namun demikian hasilnya pun belum menjanjikan terutama jika berlaga melawan Malaysia.

Di dalam dunia olahraga tidak ada kaitan antara kedigdayaan dengan jumlah penduduk, yang terjadi adalah laga antar ras. Kuwait negara kecil dengan jumlah penduduk 1% dari penduduk negeri kita. Namun dalam urusan sepakbola, timnas tak akan mampu mengalahkan tim Kuwait.  Karenanya tak heran jika timnas kita dikalahkan oleh tim Singapura yang jumlah penduduknya seperempat Jakarta. Ini bisa terjadi karena tim Singapura terdiri dari ras yang lebih unggul dibandingkan dengan ras timnas kita.

Jangan kecewa jika timnas kita tak mampu memenangkan pertandingan. Sepakbola bagi ras kita lebih tepat sebagai hiburan, tidak harus menang. Jika bisa menang, itu prestasi luar biasa. Namun jangan tertlalu berharap itu akan terulang kembali. Jangan lagi memaki atau menyalahkan pengurus jika timnas tak berkalung medali. Itu semua wajar saja. Kekuatan ras kita bukan pada fisik,tetapi non fisik yang lebih dahsyat, yang tidak dimiliki ras lain.

Ragam Ras Pribumi



Bangsa Indonesia bukan hanya terdiri dari banyak suku tetapi multi ras, ras pribumi, ras migrasi dan ras  naturalisasi. Ras pribumi adalah warga yang telah mendiami tanah leluhur sejak berabad-abad lalu. Mereka terdiri dari beberapa (sub) ras yang secara fisik berbeda satu dengan lainnya. Sedangkan ras migrasi untuk sementara didominasi oleh ras mongol (warga keturunan Tionghoa) dan ras semit (keturunan Arab). Sementara ras naturalisasi masih terhitung jari. Pengenalan ras ini perlu diketahui agar saling mengenal,  berkolaborasi mengoptimasikan kekuatan dan menutupi kelemahan masing-masing, demi kemajuan bangsa.Bukan rasialis.

Sub ras pribumi berbeda dengan suku. Di dalam sub ras pribumi terdiri dari puluhan bahkan ratusan suku. Untuk sementara, karena belum menemukan rujukannya,  nama-nama sub ras pribumi diberi nama (sub) ras berdasarkan sebutan umum, a.l :

Penduduk asli Aceh memiliki ras yang spesifik, oleh karenanya orang Aceh mudah dikenali. Menempati ujung utara pulau Sumatera, kemugkinan besar (sub) ras Aceh ini keturunan Tamil yang berasal dari Srilangka.

Tersebar dan mendominasi jumlah penduduk di negeri ini tersebar dari wilayah Sumatera,  Jawa, Kalimatan, hingga Sulawesi.  Secara spesifik, ras ini sangat tidak tegas. Sebaran ras ini meluas ke utara seperti Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dst. Corak fisiknya sulit didiskripsi secara spesifik. Warna kulit bergradasi, rambut rupa-rupa, hidung aneka macam, tinggi badan beragam, raut muka apalagi – ada yang klimis ada pula yang berjambang. Ibarat makanan, sejenis gado-gado.

Mendiami pulau Nias, memiiki corak fisik yang spesifik mirip (sub) ras Dayak. Bahkan budayanya pun ada kemiripan dengan yaitu kebiasaan ber-tatto.
Menempati pulau Kalimantan, memiiki corak fisik yang spesifik mirip (sub) ras Nias, kulit kuning, rambut lurus. Jika kedua ras tersebut dicampurkan sulit untuk membedakan kecuali dari bahasanya. Alkisah, kedua (sub) ras tersebut berasal dari tentara Kubilai Khan yang kocar kacir diserang tentara majapahit di laut Jawa. Sebagian masuk ke pedalaman Kalimantan (dayak), dan sebagian menyelinap ke Nias, pulau terpencil di sebelah barat pulau Sumatera. So, keduanya mungkin berasal dari ras yang sama yakni ras Mongol seperti Cina, Jepang dan Korea.

Mendiami kepulauan Indonesia bagian timur, termasuk  pula warga Timor Leste. Corak fisik cukup tegas, dan mudah dikenali. Kulit Hitam, badan tegap, dengan raut muka spesifik Maluku.
Sebagai bagian dari ras Melanesia, corak fisik sangat tegas dan mudah dikenali. Kulit hitam, dan rambut hitam keriting, raut muka spesifik papua. Termasuk ras ini adalah warga Papua Nugini.

Ragam Ras Dunia



Alkisah, manusia berasal dari satu nenek moyang, Adam dan Hawa (Eva). Kisah ini masih dalam perdebatan. Apakah Adam itu manusia pertama di bumi ataukah sebagai khalifah/ pemimpin yang diutus Tuhan pertama kali di bumi.

Pada saat penciptaan Adam, di surga, ada malaikat yang mempertanyakan (keberatan) kenapa Tuhan menciptakan Adam (manusia) yang akan menyebabkan kerusakan di bumi ? Bagaimana malaikat bisa tahu bahwa manusia bakal merusak bumi jika sebelumnya belum ada manusia di bumi ? malaikat tahu karena kemungkinan sudah ada manusia di bumi, sebelum penciptaan Adam. Setahu malaikat, manusia-manusia di bumi itu kerjanya merusak (hutan).

Sesungguhnya tidak ada kesulitan bagi Tuhan untuk menciptakan berbagai bentuk manusia. Apa yang dikehendakiNya akan tercipta. Penafsiran manusia berasal dari satu nenek moyang (Adam) sama artinya dengan membatasi kreatifitas Tuhan.

Keberagaman ras manusia di bumi memang diciptakan Tuhan demikian. Bukan hasil dari evolusi karena beradaptasi dengan lingkungan. Jika semua manusia berasal dari satu nenek moyang, wujud evolusi manusia karena adaptasi seharusnya tidak ekstrim. Namun kenyataannya eksposur yang tampak justru ekstrim yang mencirikan spesifikasi ras, seperti warna kulit hitam – putih.

Mustahil jika manusia berasal dari satu nenek moyang. Warna kulit hitam mustahil akan berevolusi menjadi putih, demikian sebaliknya. Semua manusia asli, tidak ada hasil evolusi. Semua ras manusia berderajat sama.

Keanekaragaman bahasa juga sebagai bukti penguat, bahwa manusia tidak berasal dari satu nenek moyang. Jika berasal dari satu akar, tentulah seluruh bahasa di muka bumi ini mempunyai banyak persamaan. Tidak mudah menciptakan bahasa (baru), kecuali Tuhan. Tuhan menciptakan makhluknya lengkap dengan bahasanya agar mereka dapat saling berkomunikasi.

Jika demikian manusia yang manaketuruhan Adam ? Salah satu diantara ras manusia di bumi pasti ada yang cucu Adam. Tapi yang mana ? Hanya Tuhan yang tahu. Baik keturunan Adam atau bukan, tidak ada (ras) manusia yang lebih mulia dihadapan Tuhan kecuali takwanya.

Pengklasifikasian ras tidak mutlak, berbeda antropolog berbeda pula dasar pendiskripsian dan penamaan ras. Secara garis besar, berdasarkan spesifikasi postur dan corak fisik, manusia dapat dibedakan menjadi beberapa ras utama yakni :
   
Orang kita bilang ‘orang bule’. Mereka mempunyai ciri fisik utama kulit putih (bule), badan tinggi, hidung mancung, rambut pirang. Termasuk ras yang mudah dikenal (tegas) corak fisiknya. Sebelum tersebar, ras ini berasal dari daratan Eropa.

Warna kulit hitam pekat, badan tinggi, rambut keriting hitam pekat.  Termasuk ras yang mudah dikenal (tegas) corak fisiknya. Sebelum tersebar, akibat perbudakan, ras ini berasal dari daratan Afrika.

Orang arab dan yahudi adalah contoh ras semit. Hidung mancung, berjambang, badan tegap. Termasuk ras yang mudah dikenal (tegas) corak fisiknya.  Pemain film Hollywood umumnya dari ras ini. Sebelum tersebar, karena perdagangan, syiar agama, atau pengusiran (yahudi), ras ini secara umum berasal dari daratan Timur Tengah. Jika Adam dan Hawa bertemu kembali di Jabal Rahmah – tanah Arab, setelah diusir dari Surga, kemungkinan besar ras semit ini turunan Adam. Wallahu a’lam.

Orang Jepang, Korea, Cina, Mongol sendiri adalah termasuk ras ini. Kulit kuning, mata sipit, rambut lurus, kalau ada yang berambut keriting biasanya dari salon. Termasuk ras yang mudah dikenal (tegas) corak fisiknya. Sebelum tersebar, ras ini secara umum berasal dari daratan Asia utara.

Melan berarti ‘hitam’. Warna kulit mereka hitam, tetapi berbeda dengan ras Afrika. Rambut keriting  tinggi badan beragam. Termasuk ras yang mudah dikenal (tegas) corak fisiknya. Ras ini secara umum menempati wilayah kepulauan Pasifik termasuk Papua.

Berasal dari bahasa Yunani, poli artinya ‘banyak’, dan Nesia berarti ‘pulau’ atau ras kepulauan. Ras penghuni kepulauan ini memiliki corak beraneka ragam. Ciri fisiknya tidak tegas. Dari warna kulit, bentuk rambut, serta ciri fisik lainnya, beraneka ragam bentuknya. Manusia Asean secara umum termasuk di dalam ras polinesia ini, termasuk Indonesia.

Kamis, 26 September 2013

Kenapa Timnas Sepakbola Kita Selalu Kalah di Kancah Dunia ?


Masih ingat dengan pertadingan sepakbola antara timnas dengan Arsenal yang digelar  pada pertengahan Juli 2013. PSSI kalah telak digulung Arsenal 0 – 7. Kekalahan timnas melawan Arsenal suatu hal yang lumrah. Tidak perlu disesali karena pada dasarnya timnas selamanya tak akan dapat mengalahkan Arsenal. Itu hanya suatu pertunjukan demi memuaskan para pecinta Arsenal, tak ubahnya pertunjukan musik yang diselenggarakan oleh even organizer. Sejak kedatangan tim Arsenal di Bandara sampai dengan kedatangannya di gelora Bung Karno disambut meriah oleh penggemar fanatiknya. Pada laga tesebut tidak ada perasaan deg-degan, karena hasilnya sudah dapat ditebak. Betapa meriahnya tepuk tangan penonton manakala tim jagoannya menjebol gawang timnas kita.   

Itu lah kenyataan. Pribumi kita dan ras yang serumpun tidak akan mampu mengalahkan ras yang memiliki postur fisik lebih kuat jika harus beradu fisik. Walaupun peluang itu ada, namun sangat kecil karena mustahil ras kita mampu mengalahkan ras mereka yang lebih kuat. Pertandingan olah raga tingkat dunia lebih tepat hanya sebagai tontonan hiburan bagi ras bangsa kita. Jangan berambisi ras kita akan menjuarai laga dunia apalagi dalam sepakbola. Partisipasi timnas di dalam seleksi piala dunia memang tak dapat dihindari karena bagian dari kerukunan berbangsa. Tetapi jika harus menargetkan kemenangan, itu ambisi yang sangat keliru. Ujung-ujungnya jika timnas mengalami kekalahan akan dihujat, menyalahkan pengurus, dslb. Yang berlaga bukan pengurus, jadi jangan salahkan mereka. Masalahnya pada komposisi atletnya. Jika atletnya dari ras pribumi maka akan sulit menang. Ini bukan mengerdilkan semangat bangsa bersepakbola, justru menyadarkan tujuan kita bersepakbola. Jika sepakbola sekedar hiburan tidak masalah, tetapi jika ditargetkan harus memenangkan laga dunia, kasihan atletnya. Ibarat mengecat langit. Sekeras apa pun usaha atlet timnas, tak akan mampu menjuarai laga dunia. Ini karena ras bangsa kita masuk kategori ras lemah.  

Kekuatan fisik tidak dapat diperbaiki dengan memotivasi, kecuali semangat bertanding. Walaupun dalam beberapa kasus kekuatan fisik dapat dibangkitkan melalui cara hipnotis, tetapi mana mungkin atlet berlaga dalam keadaan terhipnotis ?   

Mari kita ingat kembali. Berapa kali timnas sepakbola berlaga melawan ras bangsa arab ? sudah berkali-kali. Namun tak satu pun yang dapat dimenangkan. Walaupun melawan negara arab yang jumlah  penduduknya secuil. Seringkali ada yang mempertanyakan, apa susahnya mencari sebelas atlet di negeri yang berpenduduk ratusan juta ini ? Ada pula yang mengusulkan atlet sepakbola harus disiapkan sejak usia dini. Maka menjamurlah sekolah sepakbola. Jika tujuannya memenangkan laga dunia di masa depan, kubur saja mimpi itu. Karena jika atletnya tetap dari ras kita, mustahil akan memenangkan laga.

Ras bangsa kita dan serumpunnya tidak bisa mengandalkan olahraga sebagai kebanggaan bangsa dan Negara. Itu patut disadari dan diterima dengan lapang dada agar upaya yang telah dilakukan tidak sia-sia. Olahraga, terutama yang body contact, bukan keunggulan dari ras bangsa kita. Bahkan untuk mengalahkan lawan dengan postur tubuh serupa seperti atlet Tiongkok (ras mongol), atlet kita dan serumpunnya kewalahan.

Barangkali kita berdalih atlet kita berprestasi di bulu tangkis. Ya benar. Itu karena petandingannya non body contact, ada net yang membatasinya. Itu pun prestasi ras kita di bulutangkis pun tidak konsisten. Sekali juara, berkali-kali kalah. Jika ada juara dunia bulutangkis berkali-kali, juara olimpiade, coba tengok dari ras bangsa apa mereka ? ini bukan rasialis, tapi menguak kebenaran.

Pada awal tahun sembilan puluhan, dalam suatu perjalanan, duduk di sebelah saya seorang bule. Dia heran kenapa kulit saya gelap seperti orang Vietnam. Menurutnya, saya berbeda dengan orang Indonesia  yang ia tonton di televisi, atlet bulutangkis. Kenapa demikian ? karena yang mewakili negeri kita di mata dunia adalah dari ras mereka, bahkan hingga sekarang masih mendominasi  bulu tangkis. Tidak dipungkiri, karena jasa mereka lah sang merah putih dapat berkibar di manca negara.

Bahkan pada final bulutangkis antara Indonesia vs Tiongkok atau Indonesia vs Malaysia, acapkali kedua atlet yang berlaga berasal dari ras yang sama, hanya berbeda negara.  Ini membuktikan ras mongol (Tiongkok) secara fisik lebih unggul dibandingkan dengan ras asli bangsa kita walaupun postur tubuh mereka relatif sama dengan ras bangsa kita. Kenapa demikian ? karena corak ras bangsa cina lebih konsisten dibandingkan corak ras bangsa kita.  

Tim sepak bola kita pernah masuk dalam babak penyisihan olimpiade pada tahun 1930-an dengan mengalahkan tim Korut. Tapi itu dulu, kala negara kita masih Hindia Belanda, dan pemainnya pun sebagian besar indo Belanda. Jika ada pemain non Belanda, itu pun berasal dari keturunan Tionghoa, bukan pribumi.

Kembali ditegaskan disini, ini bukan rasialis. Ini wacana untuk direnungkan bersama untuk menjawab pertanyaan kenapa timnas sepakbola kita selalu kalah di ajang pentas dunia, walaupun sekelas Asia.  Dengan menyadari kelemahan ras bangsa, kita tidak perlu berharap memenangkan laga melawan ras lain yang lebih unggul dibidangnya. Sebaiknya kita fokus berlaga pada bidang dimana ras kita juga unggul dibidang yang dipertandingkan.    

Solusi Mengangkat Prestasi Sepakbola Kita



Cara paling sederhana mengatrol prestasi sepakbola kita sudah dilakukan oleh para pengelola sepakbola negeri ini. Cara cepatnya adalah dengan menaturalisasi ras bangsa lain yang fisiknya lebih kuat.

Seperti kita saksikan saat ini, hampir seluruh klub sepakbola profesional di negeri ini mengontrak pemain asing, yang paling umum dari Afrika dan Amerika Tengah agar permainan sepakbola negeri kita lebih layak ditonton. Namun sayangnya untuk laga dunia, mereka tak dapat dilibatkan karena mereka bukan warga negera negeri ini. Agar mereka dapat dilibatkan di dalam pentas laga dunia, mereka harus dinaturalisasi. Walaupun masih terhitung jari, kehadiran mereka cukup signifikan di dalam meningkatkan kualitas permainan sepakbola di negeri kita.

Namun demikian tidak semua atlet naturalisasi dapat diterjunkan mewakili negara barunya, karena bagaimana pun ada batasannya. Bayangkan jika timnas kita melawan tim negara tetangga menurunkan  pemain yang semuanya berasal dari naturalisasi Afrika semua. Yang terjadi bukan laga antar negeri kita melawan negara serumpun, tetapi laga dunia antara kamerun vs negara Asean. Demikian juga jika yang diturunkan naturalisasi yang berasal dari Amerika Tengah, disangkanya bangsa kita tidak percaya diri sehingga menyewa tim Brasil untuk menghadapi pemain Asean. Malu kita ……

Cara mudah lainnya, ini yang belum pernah dilakukan, melibatkan secara aktif ras mongol (Tiongkok) dan ras semit (arab) yang sudah jelas-jelas warga negara sendiri. Secara fisik, kedua ras tersebut memiliki kekuatan fisik yang lebih baik. Keberadaan kedua ras tersebut merupakan anugerah negeri ini. Sayangnya keterlibatan kedua ras tersebut sampai saat ini masih langka di dunia sepakbola. Apalagi ras semit (arab), bisa dikatakan nihil dari dunia olahraga di negeri kita. Padahal di negeri jiran, kedua ras tersebut berpartisipasi maksimal di berbagai bidang olahraga termasuk sepakbola.   

Jika kedua ras, mongol dan semit, dilibatkan secara aktif di dalam sepakbola kita, niscaya sepakbola negeri kita akan merajai Asean. Lawan berat hanya Malaysia, karena komposisi atlet mereka sudah lama melibatkan kedua ras dimaksud. Sedangkan negeri lain, seperti Thailand, Myanmar, Vietnam, dsb minim ras semit.  

Bukan hanya akan merajai Asean, di kancah laga Asian games pun peluang untuk menjadi juara pun menjadi lebih besar. Ketika menghadapi negeri Tiongkok (ras mongol), diturunkan tim dengan komposisi sebagian besar ras serupa laiknya pertandingan bulutangkis. Manakala menghadapi tim negeri Arab, diturunkan tim dengan komposisi mayoritas ras semit– yang sama dengan ras lawan.

Kedua cara diatas, naturalisasi dan melibatkan ras mongol dan semit kedalam kancah sepakbola, merupakan cara instan di dalam mendongkrak prestasi sepakbola negeri ini. Apakah harus selamanya demikian ? dimana eksistensi ras pribumi di mata dunia setelah itu ?

Blaster - Kawin Silang
Di dalam meningkatkan kualitas ras, cara yang paling mungkin adalah memblaster, kawin silang antar ras. Seperti kita ketahui, perkawinan silang antara warga pribumi dengan bule secara umum mendapatkan keturunan yang lebih bagus, baik dari perawakan maupun wajah yang lebih indah. Namun   Cara terakhir ini tidak mudah, karena terkait urusan agama dan budaya.  Kesamaan agama barangkali dapat diabaikan karena banyak dinatara warga negeri ini yang seagama walau berlainan ras. Namun untuk urusan budaya, ini yang pelik. Walaupun agama sama, namun dari latar belakang budaya yang berbeda, amat sulit disatukan. Jangankan beda ras, sesama ras dan agama pun sulit disatukan jika berasal dari suku/ budaya yang berbeda. Itulah kenyataaan. Jika agama sebagai pembatas itu wajar saja, namun jangan menjadikan budaya sebagai kendala.

Asal Anda tahu, bangsa Spanyol merupakan bangsa blasteran antara ras anglo saxon dengan ras semit. Makanya tak heran jika warga Spanyol sangat tangguh fisiknya. Demikian pula warga Amerika Tengah dan Selatan. Mereka merupakan hasil blasteran antara Spanyol dan penduduk setempat Indian atau dengan negro, yang semula adalah budak asal Afrika.  

Bagi warga Spanyol, yang kala itu sebagai penjajah, perbedaan ras dan status sosial bukan masalah, apalagi sekedar perbedaan budaya. Mereka secara aktif melakukan perkawinan silang. Setelah beberapa ratus tahun kemudian, muncullah generasi mulato/ blasteran dengan kualitas fisik yang lebih tangguh. Ini bisa kita saksikan dari para pemain bola dunia, sebagian besar dari mereka adalah blasteran.

Jika kawin silang antar ras pribumi dengan ras pendatang sulit dilaksanakan, paling tidak perkawinan silang antar sub ras pribumi bukan kendala. Di negeri ini, sesungguhnya terdiri dari beberapa sub ras yang sebagian melekat dengan nama pulau dimana mereka berasal.

Ketika jaman baheula, dimana manusia nusantara masih jarang bermigrasi, Prof Wallace – ahli  biologi asal Inggris, menarik garis batas yang memisahkan wilayah Hindia Belanda berdasarkan perbedaan anatomi flora dan fauna yang dikenal dengan ‘Garis Wallace’. Tarikan garis Wallace, yang membentang melintasi pulau Sulawesi, bukan sekedar memetakan perbedaan flora dan fauna, tetapi juga perbedaan ras manusia – ras  timur dan ras barat. Termasuk ras timur adalah sub ras maluku dan papua, sedangkan ras barat adalah sub ras melayu kecuali Aceh yang diduga sebagai sub ras tamil.

Mengetahui keanekaragaman ras negeri ini bukan rasialis, tetapi untuk mensyukuri kekayaan bangsa. Perkawinan silang antar ras internal pribumi barangkali bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas bangsa negeri ini. Tapi masalahnya kembali lagi pada kemauan. Disamping itu dibutuhkan waktu ratusan tahun untuk mengetahui hasil perubahannya seperti yang dilakukan bangsa Spanyol di Amerika Tengah. Hasilnya dapat Anda saksikan sekarang. Tim Spanyol dan Amerika Tengah marajai sepakbola dunia.    

Selain meningkatkan kualitas ras, kawin silang akan lebih menguatkan kesatuan bangsa. Tidak ada lagi kotak-kotak pemisah antara ras satu dengan ras lainnya. Cara itu pula yang dilakukan para bangsawan kerajaan baheula untuk mempersatukan dua kerajaan agar tidak saling menyerang.  

Rabu, 25 September 2013

Kenapa Kita Menempati Negeri Surga Ini ?



Tahukah Anda, kenapa nenek moyang kita ditempatkan di negeri ini ? Bukan suatu kebetulan atau karena menang undian nenek moyang kita ditempatkan di negeri ini, tetapi ini rencana Tuhan. Kenapa nenek moyang kita tidak di tempatkan di benua Afrika yang kering kerontang, atau di wilayah empat musim di belahan bumi utara atau selatan yang dingin menggigit ? Nenek moyang kita ditempatkan di negeri ‘surga dunia’ ini karena suatu alasan yang sesuai dengan kebutuhan ras nenek moyang kita kala  itu.

Jika orang hitam Afrika ditempatkan di tanah kering, itu juga bukan hukuman. Demikian pula manusia yang ditempatkan di negeri empat musim yang satu waktu dingin menggigit, yang hanya bisa satu kali panen dalam setahun, itu juga karena nenek moyang mereka kalah undian.  Semua ada alasannya.  

Bagaimana kalau penempatan nenek moyang keliru ? Misal nenek moyang kita ditempatkan di dataran Afrika ? kita tidak akan ada  disini sekarang, sudah musnah. Nenek moyang kita tidak akan sanggup menghadapi teriknya matahari Afrika, yang minim air dan pangan. Demikian pula jika nenek moyang kita ditempatkan di negeri Eropa, tidak akan bertahan ketika musim dingin tiba.

Nyatanya nenek moyang kita tidak ditempatkan di negeri-negeri beriklim ekstrim, tetapi ditempatkan di negeri katulistiwa dengan siraman hangat matahari sepanjang masa. Negeri hijau loh jinawe, tersedia aneka pangan, buah-buahan ranum silih berganti sepanjang tahun, iklim yang nyaman, air segar memancur di mana-mana. Sungguh, nenek moyang kita dimanja Tuhan.

Pertanyaannya kenapa Tuhan demikian memanjakan nenek moyang kita ? apakah karena nenek moyang kita paling taat beribadah dibanding lainnya ? bisa jadi iya dengan caranya kala itu. Tapi yang paling relevan, karena fisik nenek moyang kita LEMAH.  

Karena alasan itulah, agar nenek moyang kita dapat bertahan hidup dan melahirkan keturunannya, Tuhan yang maha adil menempatkan nenek moyang kita di negeri ini. Semua kebutuhannya dicukupi.  Makanan tersedia, tinggal petik atau pungut buah jatuhan masak pohon. Air minum memancar tinggal menadahkan tangan. Mau berteduh sudah disiapkan gua sebagai tempat tinggal.

Bandingkan dengan di dataran Afrika sana. Mereka yang ditempatkan di sana, mau makan harus mencari ubi dengan menggali-gali tanah bersaing dengan babi liar. Mau minum harus berlari-lari mengejar fatamorgana bahkan harus bertaruh nyawa melawan buaya. Mau berteduh harus berlaga dulu dengan singa, berebut bayangan pohon yang langka di lahan kering.

Orang ras afrika bertubuh hitam pekat bukan hasil evolusi atau adaptasi karena terjerang matahari sepanjang hari, tetapi memang dirancang Tuhan untuk menghadapi teriknya matahari Afrika. Kaki yang panjang dan tubuh yang ramping disiapkan agar mampu berpacu atau berlari menyelamatkan diri dari ancaman binatang  buas.

Bayangkan jika nenek moyang kita dahulu ditempatkan di dataran Afrika. Dengan bentuk fisik seperti sekarang, niscaya nenek moyang kita sudah lumat dimangsa binatang buas. Kita pun tidak ada di dunia saat ini.

Sesungguhnya ragam ras itu memang ada. Bukan hasil dari evolusi, tetapi memang disain dari Tuhan. Jika memang hasil evolusi, seharusnya orang ras Afrika yang tinggal di belahan Amerika dan Eropa bergradasi menjadi warna coklat kemudian memutih. Pada kenyataannya mereka tetap hitam pekat. Demikian pula orang kulit putih yang tinggal di Afrika yang terik, kulit mereka tetap berwarna putih. Jika ada perubahan warna kulit dari putih menjadi coklat  karena terjerang matahari, itu hanya sementara, setelah itu akan kembali lagi seperti semula – bule lagi.

So, bersyukurlah kita ditempatkan di negeri ini. Jika tidak, ras kita sudah lama punah atau sebagai  salah satu ras yang harus dilindungi. Bagi kita yang semenjak lahir sudah berada di negeri ini, keberadaan kita di negeri ini sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, tidak istimewa. Apalagi bagi yang belum pernah tinggal di ‘luar’, yang belum pernah merasakan pedihnya udara dingin yang menggigit atau udara panas ekstrim yang mencekik. Namun bagi mereka para pendatang, negeri ini sungguh surga dunia.