Kamis, 26 September 2013

Solusi Mengangkat Prestasi Sepakbola Kita



Cara paling sederhana mengatrol prestasi sepakbola kita sudah dilakukan oleh para pengelola sepakbola negeri ini. Cara cepatnya adalah dengan menaturalisasi ras bangsa lain yang fisiknya lebih kuat.

Seperti kita saksikan saat ini, hampir seluruh klub sepakbola profesional di negeri ini mengontrak pemain asing, yang paling umum dari Afrika dan Amerika Tengah agar permainan sepakbola negeri kita lebih layak ditonton. Namun sayangnya untuk laga dunia, mereka tak dapat dilibatkan karena mereka bukan warga negera negeri ini. Agar mereka dapat dilibatkan di dalam pentas laga dunia, mereka harus dinaturalisasi. Walaupun masih terhitung jari, kehadiran mereka cukup signifikan di dalam meningkatkan kualitas permainan sepakbola di negeri kita.

Namun demikian tidak semua atlet naturalisasi dapat diterjunkan mewakili negara barunya, karena bagaimana pun ada batasannya. Bayangkan jika timnas kita melawan tim negara tetangga menurunkan  pemain yang semuanya berasal dari naturalisasi Afrika semua. Yang terjadi bukan laga antar negeri kita melawan negara serumpun, tetapi laga dunia antara kamerun vs negara Asean. Demikian juga jika yang diturunkan naturalisasi yang berasal dari Amerika Tengah, disangkanya bangsa kita tidak percaya diri sehingga menyewa tim Brasil untuk menghadapi pemain Asean. Malu kita ……

Cara mudah lainnya, ini yang belum pernah dilakukan, melibatkan secara aktif ras mongol (Tiongkok) dan ras semit (arab) yang sudah jelas-jelas warga negara sendiri. Secara fisik, kedua ras tersebut memiliki kekuatan fisik yang lebih baik. Keberadaan kedua ras tersebut merupakan anugerah negeri ini. Sayangnya keterlibatan kedua ras tersebut sampai saat ini masih langka di dunia sepakbola. Apalagi ras semit (arab), bisa dikatakan nihil dari dunia olahraga di negeri kita. Padahal di negeri jiran, kedua ras tersebut berpartisipasi maksimal di berbagai bidang olahraga termasuk sepakbola.   

Jika kedua ras, mongol dan semit, dilibatkan secara aktif di dalam sepakbola kita, niscaya sepakbola negeri kita akan merajai Asean. Lawan berat hanya Malaysia, karena komposisi atlet mereka sudah lama melibatkan kedua ras dimaksud. Sedangkan negeri lain, seperti Thailand, Myanmar, Vietnam, dsb minim ras semit.  

Bukan hanya akan merajai Asean, di kancah laga Asian games pun peluang untuk menjadi juara pun menjadi lebih besar. Ketika menghadapi negeri Tiongkok (ras mongol), diturunkan tim dengan komposisi sebagian besar ras serupa laiknya pertandingan bulutangkis. Manakala menghadapi tim negeri Arab, diturunkan tim dengan komposisi mayoritas ras semit– yang sama dengan ras lawan.

Kedua cara diatas, naturalisasi dan melibatkan ras mongol dan semit kedalam kancah sepakbola, merupakan cara instan di dalam mendongkrak prestasi sepakbola negeri ini. Apakah harus selamanya demikian ? dimana eksistensi ras pribumi di mata dunia setelah itu ?

Blaster - Kawin Silang
Di dalam meningkatkan kualitas ras, cara yang paling mungkin adalah memblaster, kawin silang antar ras. Seperti kita ketahui, perkawinan silang antara warga pribumi dengan bule secara umum mendapatkan keturunan yang lebih bagus, baik dari perawakan maupun wajah yang lebih indah. Namun   Cara terakhir ini tidak mudah, karena terkait urusan agama dan budaya.  Kesamaan agama barangkali dapat diabaikan karena banyak dinatara warga negeri ini yang seagama walau berlainan ras. Namun untuk urusan budaya, ini yang pelik. Walaupun agama sama, namun dari latar belakang budaya yang berbeda, amat sulit disatukan. Jangankan beda ras, sesama ras dan agama pun sulit disatukan jika berasal dari suku/ budaya yang berbeda. Itulah kenyataaan. Jika agama sebagai pembatas itu wajar saja, namun jangan menjadikan budaya sebagai kendala.

Asal Anda tahu, bangsa Spanyol merupakan bangsa blasteran antara ras anglo saxon dengan ras semit. Makanya tak heran jika warga Spanyol sangat tangguh fisiknya. Demikian pula warga Amerika Tengah dan Selatan. Mereka merupakan hasil blasteran antara Spanyol dan penduduk setempat Indian atau dengan negro, yang semula adalah budak asal Afrika.  

Bagi warga Spanyol, yang kala itu sebagai penjajah, perbedaan ras dan status sosial bukan masalah, apalagi sekedar perbedaan budaya. Mereka secara aktif melakukan perkawinan silang. Setelah beberapa ratus tahun kemudian, muncullah generasi mulato/ blasteran dengan kualitas fisik yang lebih tangguh. Ini bisa kita saksikan dari para pemain bola dunia, sebagian besar dari mereka adalah blasteran.

Jika kawin silang antar ras pribumi dengan ras pendatang sulit dilaksanakan, paling tidak perkawinan silang antar sub ras pribumi bukan kendala. Di negeri ini, sesungguhnya terdiri dari beberapa sub ras yang sebagian melekat dengan nama pulau dimana mereka berasal.

Ketika jaman baheula, dimana manusia nusantara masih jarang bermigrasi, Prof Wallace – ahli  biologi asal Inggris, menarik garis batas yang memisahkan wilayah Hindia Belanda berdasarkan perbedaan anatomi flora dan fauna yang dikenal dengan ‘Garis Wallace’. Tarikan garis Wallace, yang membentang melintasi pulau Sulawesi, bukan sekedar memetakan perbedaan flora dan fauna, tetapi juga perbedaan ras manusia – ras  timur dan ras barat. Termasuk ras timur adalah sub ras maluku dan papua, sedangkan ras barat adalah sub ras melayu kecuali Aceh yang diduga sebagai sub ras tamil.

Mengetahui keanekaragaman ras negeri ini bukan rasialis, tetapi untuk mensyukuri kekayaan bangsa. Perkawinan silang antar ras internal pribumi barangkali bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas bangsa negeri ini. Tapi masalahnya kembali lagi pada kemauan. Disamping itu dibutuhkan waktu ratusan tahun untuk mengetahui hasil perubahannya seperti yang dilakukan bangsa Spanyol di Amerika Tengah. Hasilnya dapat Anda saksikan sekarang. Tim Spanyol dan Amerika Tengah marajai sepakbola dunia.    

Selain meningkatkan kualitas ras, kawin silang akan lebih menguatkan kesatuan bangsa. Tidak ada lagi kotak-kotak pemisah antara ras satu dengan ras lainnya. Cara itu pula yang dilakukan para bangsawan kerajaan baheula untuk mempersatukan dua kerajaan agar tidak saling menyerang.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar